DINAS PARIWISATA PEMUDA DAN OLAHRAGA

KABUPATEN LIMA PULUH KOTA

Talempong Batu

Admin
Jumat, 28 Mei 2021
317 Dibaca

Talempong Batu berlokasi di Nagari Talang Anau Kecamatan Gunuang Omeh Kabupaten Lima Puluh Kota Provinsi Sumbar, Adapun jarak tempuh dari ibukota Kabupaten, Sarilamak lebih kurang 45 km.

INILAH SEJARAH TALEMPONG BATU

Dalam sejarahnya pada abad ke-12 M batu talempong ini ditemukan dan dikumpul oleh seorang anak muda yang bernama Syamsudin. Syamsudin ini adalah anak tunggal dari pasangan keluarga yang mana kedua orang tuanya termasuk orang yang disegani dalam kampung pada waktu itu. Konon ceritanya, sebelum Syamsudin menemukan batu batu itu pada awalnya dia bermimpi, dalam mimpinya tersebut Syamsudin merasa bahwa di daerah sekitarnya berdiri bermunculan sejumlah titik-titik cahaya yang menerangi kegelapan waktu itu, awalnya Syamsudin tidak menggubris mimpinya tersebut, tapi pada malam-malam selanjutnya dan berturut-turut selama tiga Malam Mimpi itu selalu menghiasi tidurnya.

Seakan-akan ada yang memerintahnya untuk melakukan sesuatu, akhirnya Syamsudin berpikir Adakah ini suatu pertanda atau perintah yang datang dari pendahulu atau pendiri kampung, orang pandai dan sebagainya? Mulailah Syamsudin berjalan mengitari tempat ya tinggal di mana kira-kira adanya titik cahaya yang datang dalam mimpinya tersebut, Setelah lama berselang Syamsudin merasa lelah dan dia memutuskan untuk beristirahat dan duduk termenung memikirkan apa yang sebenarnya sedang dicarinya, sembari duduk Syamsudin memukul-mukulkan tongkatnya pada sebuah batu, dan alangkah terkejutnya Syamsudin, karena waktu yang di depannya tersebut bisa mengeluarkan bunyi, melihat apa yang didapatinya serasa hilang penat dan letih pada diri Syamsudin, seolah-olah ia mendapat arti dari semua mimpinya, dan seterusnya berlanjut lah pencarian Syamsudin untuk menemukan batu-batu lain yang terletak di setiap titik cahaya yang datang dalam mimpinya, akhirnya dia menemukan juga apa yang dicarinya titik setelah ia menemukan apa yang dicarinya, lalu Syamsudin menghela batu-batu tersebut (layaknya peternak menggiring gembalaannya pulang ke kandang) dengan sebatang lidi dari daun kelapa hijau ke sebuah tempat dan mengumpulkan nya di atas mulut sebuah lobang atau terowongan yang membujur panjang menuju ke sebuah mata air yang cukup besar sekarang bernama AIR MANDANAU tepat berada di sebelah barat kampung sekarang. Setelah semua batu dikumpul dan ditata di atas dua batang bambu yang melintang di atas mulut berlubang tersebut.

Karena batu yang ditemukan oleh Syamsudin mengeluarkan bunyi atau nada yang berirama, maka dijadikan lah batu tersebut oleh masyarakat sebagai alat pengumpul penduduk dan sebagai sarana hiburan yang sifatnya ritual pada waktu itu buktinya sampai sekarang seandainya ada salah seorang penduduk atau pengunjung yang datang membunyikan batu tersebut maka masyarakat sekitarnya akan datang dengan sendirinya dan memastikan siapa yang membunyikan batu tersebut.

Kembali ke cerita Syamsudin diatas yang mana detelah lama berselang Ayah Syamsudin meninggal dunia, hingga Kampung tersebut diliputi oleh suasana berkabung dan mencekam, masih dalam suasana berkabung ibu titik tinggallah Syamsudin seorang diri hanya ditemani alam dan penemuannya.

Dalam kesendiriannya itu Syamsudin berubah menjadi anak yang pendiam dan sering duduk sendiri dan memainkan memukul batu yang ditemukannya sampai akhirnya keanehan banyak nampak oleh masyarakat pada diri Syamsudin, yakni melamun dan Tafakur di talempong batu kadang terlihat kadang tidak dan ada juga yang menemukan di dua tempat pada waktu yang sama Dalam keganjilan tersebut Syamsudin akhirnya Raib entah kemana HILANG TAK TAHU RIMBANYA, MATI TAK ADA KUBURNYA, LAH HILANG TUAN NAN MANAMUKAN BATU BABUNIKO sejak itulah Syamsudin berganti nama dengan TUANKO NAN HILANG.

Sepeninggal Syamsudin alias tuanku nan hilang maka masyarakat Talang Anau menjadikan batu talempong sebagai benda keramat kesaktian dan kebanggaan Nagari Talang Anau sehingga masyarakat Talang Anau atau masyarakat dari luar banyak yang melakukan ritual di tempat ini.

Untuk menghormati dan mengenang jasa tuanko nan hilang dan pendahulu pendahulu Kampung diwaktu kita memasuki area batu kita disuruh untuk berlaku sopan dan membakar kemenyan terlebih dahulu untuk memukul atau membunyikan batu ini karena masyarakat masih menganggap si empunya batu tidak akan pernah meninggalkan peninggalannya tersebut dan akan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi setelah keluar dari area talempong batu.

Kejadian yang sampai saat ini masih berlaku adalah batu menggigil atau bergetar dan terasa di sekitar areal batu semacam gempa lokal sehingga masyarakat tahu itu adalah suatu pertanda mungkin akan terjadi sesuatu di Talang Anau baik itu kabar buruk atau sebaliknya.

Batu Talempong ini termasuk wisata budaya di Kabupaten Lima Puluh Kota

Sumber : Iril, Jupel Batu Talempong

 

Berita terbaru
`

Feedback